Cerpen : Sepucuk Surat Bersampul Biru

Nama Pena : Titik Setyowati

Sepucuk surat bersampul biru terselip dibawah pintu kamar kos, ada untaian huruf di permukaa sampul biru itu, untaian huruf yang rapi yang membentuk nama Aan dari Pekalongan di situ. Lily menghela napas. Rasa penasaran yang teramat sangat dan segera membukanya. Lalu dengan cepat di bacanya kalimat demi kalimat yang tertulis di situ. Dan dalam diamnya, kembali mengeluh. Oh.. jadi mau minta tolong, sebelum dia datang ke kota ini lagi, besok.

“Hai Liy,” suara Anis mengagetkan Lily dan membuatnya menoleh mencari suara yang datang.

“Ada apa?” tanya Lily sambil memaksakan diri untuk membalas senyuman Anis, dan buru-buru memasukkan surat bersampul biru itu.

“Surat dari siapa?” Anis yang melihat gerakan Lily menanyakan

“Dari Aan..,” jawab Lily pelan.

“Oh…berarti aku menggangu mu ya,” Anis tertawa kecil. “Kalau boleh tahu Aan bilang apa?”

“Dia akan ke Solo lagi.” Dengan begitu kalian akan bisa bersama-sama lagi dan sering main ke kos lagi. Kalian pantas kok untuk bersama-sama, satu semester meninggalkanmu pastilah Aan rindu sama kamu, bukan?”

Lily tak mengeluarkan suara apa-apa, merasa tak perlu memberi jawaban, dari pertanyaan Anis.
Ah…apakah aku punya rindu pada Aan, Lily berbicara dalam hati. Rindukah, sebagai apakah aku pada Aan.. ?

***

Hari yang di janjikan Aan akan tiba di Solo, setelah Liliy menunggu beberapa lama disebuah rumah makan, Aan pun datang juga. Ada rasa kekesalan dalam hati Lily setelah menunggu beberapa lama, dengan langkah tenang Aan berjalan ke tempat Lily yang sedang menungguinya.

“Aan..”

Lalu pemuda itu menolah. Dan dengan senyumnya yang khas, dan tatapan mata yang memancarkan kelembutan, begitu tenang, membuat Lily tak kuasa mengatakan uneg-unegnya dalam hati, Lily dengan gelisah memainkan tisu ditangannya.

“Aan, aku…emm…”

Tak mungkin mengatakan bahwa sebenarnya orang tua lily tidak menghendaki hubungan ini, tak mungkinlah mengatakan yang sebenarnya lily tak menghendaki pertemuan ini, tak mungkinlah mengatakan minggu depan dia akan menjalai operasi.

“Iya katakan saja Liy, Aan tersenyum dengan tenang. “mungkin kau terlalu sibuk dengan kuliahmu sekarang. “benar, kan?”

Ah, seperti yang sudah-sudah, keluh Lily dalam hati. Aan tak pernah marah begitu menjaga sopan santunan, begitu menghargai seorang wanita, tuturkatanya tak pernah menyakiti, begitu mendukung dalam semua kegiatan di kampus, bahkan mengirimkan sebuah buku untuk bahan referensi bacaan Lily. Bagaiman ini Aan? Aku harus bagaimana ini, agar dirimu melihat kekuranganku di matamu, aku ingin melihatmu Aan. Sedikit saja, agar perasaan tidak enak ini bisa ku atasi. Agar aku punya keberanian mengatakan yang sebenarnya, selama ini orang tuaku tidak menyetujui hubungan ini, dan sayangku padamu hanyalah sebuah rasa sayangku pada teman, bukan rasa sayang karena cinta, mesikipun waktu itu rasa cinta ini sempat sedikit bersemi.

Ditatapnya Aan. Lily tahu, kesalahan terbesar yang di lakukan membalas surat demi surat yang dikirimkan Aan hampir setiap bulan sekali, Dia mau di ajak pergi diperkenalkan dengan teman-temanya sewaktu masih di Solo, Di perkenalkan kan pada Om-nya yang salah satu dosen di kampus Lily, diajaknya pergi ke acara demi acara di fakultasnya, bahkan membantunya dalam menyelesaikan beberapa tugas kuliahnya.

Ah…semuanya telah terjadi, tak kan bisa diputar kembali, dia telah terbuai dengan kata-kata manis yang ada dalam tiap lembaran-lembaran surat itu. Entah sudah berapa lembar yang telah terkirimkan. Baru kemudian setelah berlembar-lembar surat yang terbaca dan mengirimkan balasanya menyadarinya, itu pun karena sang ibu mengetahui hubungan ini, dan menceritakan semua hal menurut kaca mata seorang Ibu, yang sudah banyak memakan asam garam kehidupan ini. Tanpa harus menuruti seketika perkataan Ibu, tapi sedikit demi sedikit dicerna dan diamati semuanya ada benarnya.
Lily mengeluh…lelah sudah batin ini, kau tak pernah bisa kuraih. Sampai kapan sandiwara ini akan berakhir..Lily ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada Aan, tapi tak sanggup rasanya tatkala melihat tatapan mata yang penuh kelembutan. Hanya diam dan membisu saja.

***

Hari-hati pun di lewatinya dengan kebersamaan, walaupun hati ini masih bergemuruh di dalam dada, untuk segera mengungkapkan yang sebenarnya, walapun hati ini terasa bimbang dan ragu, tapi alangkah lebih baik di katakan dengan cepat, biarlah semua yang telah terjadi tidak mengangap sandiwara belaka, karena perasaan ini sangat menyiksa batin. Tapi kalau dikatakan yang sebenarnya, apakah Aan menerimya, bukankah kejujuran itu sulit diterima. Samapai saat tibanya Aan mengantarkan ke pulang ke kos Lily pun hanya diam membisu, saat tiba di pintu gerbang kos saatnya untuk mengatakan yang sebenarnya pada Aan.

“Liy..kenapa kamu diam saja dari tadi, adakah tuturkataku yang telah menyakitimu”

Lily tetap diam dan hanya mengeleng kepala, lidahnya kelu tak mampu berkata-kata, padahal saat inilah waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya, mengingat hari ini pertemuan terakhir Aan untuk meningkatkan kota Solo dan kembali ke Pekalongan, diminta temannya untuk membuatkan Desain sebuah Mall yang akan di bangun di kota itu.

“Aku tahu Liy kau sangat kecewa karena jarak kita berjauhan dan aku kurang memperhatikanmu, tapi ini kan demi kebaikan kita nantinya. Aku tak ingin kehilangamu.., jaga dirimu baik-baik ya..besok aku pulang ke Pekalongan dan besoknya lagi proyek besar segera ku tangani.
Kemudian Aan pulang dengan membawa cinta, dan Aan pun menganggap Lily pun melepaskan dengan segenap cinta. Di tatapnya surat yang telah disiapkan untuk mengatakan sebenarnya apa yang terjadi, tapi tak kuasa mengatakan manakala melihat sorot tatap mata yang lembut itu seakan menusuk jantung hati Lily. Oh.. kenapa sulit sekali rasanya, lidah ini kelu, mulut ini serasa terkunci, hanya diam mebisu saja. Oh..kenapa perasaan ini selalu bermain-main terus manakala harus mengatakan hal yang seharunya dikatakan, oh..kenapa..oh..kenapa.

Lalu dengan langkah kaki yang lelah dan letih karena bermain dengan perasaannya sendiri, lily cepat-cepat masuk kamar dan ingin segera tidur.

***

Keesokan harinya segera mengeposkan surat yang telah dipersiapkan untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Aan, meskipun hal ini tidak baik, harusnya mengatakan yang sebenarnya, segenap perasaan hatinya, waktu ada Aan di kota ini, tapi rasa hati tidak bisa dan hati tak kuasa mengatakannya bagaiamana. Mungkinlah jalan yang terbaik menurut Lily yang di lakukannya.

***

Alangkah kecewanya Aan setelah mengetahui dan membaca sepucuk surat warna biru itu. Lalu. Setelah menenangkan perasaan hatinya dan sudah siap mengatakan apa yang mau ditanyakan pada Lily. Dengan pelan lalu memutar nomor telephon Lily yang ada di Solo.

“Hallo Liy apa kabamu ?”

Suara yang diseberangpun hanya diam tak ada kata-kata apapun, Lily bergetar manakala mendengar suara yang di seberang, suara Aan. Suara yang di seberang hanya diam membisu. Setelah Aan berbicara berbosa basi dan menceritakan beberapa hal setelah tiba di kotanya, lalu Aan membahas isi surat itu.

“Aku sudah membaca suratmu Liy, ada apa sebenarnya dan apa yang telah terjadi denganmu, adakah aku telah menyakiti perasaanmu”

“Maafkan aku Aan” suara lily lirih hampir-hampir tak kedengaran,

“Kamu sudah tahu semua yang kukatakan didalam surat itu, aku tak perlu menjelaskan nya lagi”

“Tapi bisakah kamu mengasih alasan yang jelas”

“Ya, aku takut hubungan ini kalau berjalan, serasa aku menipu diriku sendiri dan juga kamu, aku bersama mu tapi hati dan perasaan ini tak tahu entah kemana lagi”

Lily mendesah pelan “maafkan aku Aan” lalu menutup gagang telephone yang sebenarnya Aan belum ingin mengakiri pembicaraannya.

Rasa kecewanya Aan setelah mendengar penjelasan Lily di telepone dan merobek-robek surat yang telah dibacanya tadi karena kekesalannnya, membanting pigura yang didalamya foto Lily, yang ada di meja kamarnya, menendang pintu kamarnya, dan terdengar suara keras, “Gubrak”. Lalu merebahkan badannya di ranjang. Berpikir, dan berpikir, sambil mengingat-ingat apa yang telah terjadi, karena dia terlalu mencintai dan menyayangi gadis itu.

Setelah berpikir dan berpikir tapi otaknya buntu tak menemukan jawabanya, akhirnya putus asa, tapi tiba-tiba Aan terperanjant mengingat apa yang telah terjadi pertemuannya terakhir waktu masih di Solo, Lily tampak diam, tak banyak bicara dan rasanya aneh, seakan merengangkan jarak, padahal lama tidak ketemu tapi saat ketemu rasanya jadi hampar. Pernah sih Lily cerita bahwa ia sakit dan akan menjalankan operasi, apakah mungkin ada kaitanya yang telah di ceritakannya waktu itu. Oh.. rasanya tak sabar segera ke Solo besok pagi dan menemui Lily untuk meminta penjelasan, kalau ngak gak gitu menemui Anis sahabat satu kos Lily.

***

“Hai..Anis, aku boleh masuk kamarmua ya” tanya Lily pada Anis.

“Alah..sok bosa basi segala liy, mang ada apa kok tumben-tumben amat sok manis begitu, biasanya juga langsug nyolong aja”

Yang disapanya tanpa komentar apa-apa lalu menyalakan TV dan menikmati acaranya. Karena Pak Kos, hanya menyediakan satu TV dan ditaruh dikamarnya Anis, yang berdekatan dengan antena yang di taruh di luar, dan dari delapan kamar, ada Astik Farmasi, Syeni, Faperta, Lily, Mekar, Lina FE, Dies, dan paling ujung kamar Diana, Faperta, kesemuanya satu angkatan 2000, tempat Anis (Faperta) lah yang paling besar diantara kamar lainnnya.

“Gak boleh ya nonton tv-mu ?” tanya Lily, “ya udah kalau begitu aku gak jadi ah..”

“Waduh…kok sensitif banget sih, baru ditanya begitu saja sudah marah” Anis tertawa lalu Lily juga tertawa

“Apa kabarnya Aan, Liy ?

Anis kan tahu surat-surat yang dikirimkan Aan banyak diterimanya oleh Anis karena kamarnya paling depan. “halllooo…kok diam aja.. lagi melamun ya, melamunin siapa sih”, “pertanyaanku belum di jawab Liy, apa kabarnya Aan”

“Emmm…gimana ya.”

“Waduh jawaban meragukan sekali, ada apakah gerangan Liy, kayaknya ada masalah ya, atau Aan menyakitimu..?” desak Anis pada lily

“Dia baik kok, dia tak menyakiti aku, sengaja aku menyuruh Aan tak menghubungiku lagi”

“Loh..emang apa yang terjadi”

Lily menarik napas dan mengeluarkannnya perlahan, apakah saatnya menceritakan apa yang telah terjadi, setelah hati dan perasaanku tak tahu entah kemana, Aan baik dan penuh perhatian hanya jarak aja yang memisahakan kita Lily ada di Solo sedangkan Aan ada di Pekalongan. Setelah juga orang tuaku tahu hubungan ini, dan menceritakan pada ku kalau semisal hubungan ini berlanjut, ya karena orang tua ku sudah banyak makan asam garam kehidupan, aku menurutinya dan lagi masa depan masih panjang, harapan dan impian masih diawan, apalagi sudah beberapa kali bertemu dengan Aan, soalnya apa yang telah di katakan orang tuaku ada benarnya juga, setelah aku cerna dan ku perhatikan tiap kali pertemuan-pertemuan dengan Aan, dan lagi sebentar lagi aku juga aku menjalani operasi setelah dua tahun bersangkar di dalam dadaku sebelah kiri ini, dan sangat menganggu kesehatanku, sedikit demi sedikit daya tahan tubuhku terganggu, satu-satunya jalan harus di operasi, karena setelah dua tahun berbagai macam pengobatan alternatif belum menunjukkan hasilnya, orang tuaku selalu memantau kesehataku tiap hari, takut terjadi kenapa-kenapa, mengingat hanya aku dari beberapa keluarga yang menderitanya, padahal aku juga tidak ingin disayat-sayat pisau dokter itu, pastilah berbekas, dan bekasnypun pasti sulit untuk hilang, aku tak bisa untuk menahan beban yang berat ini Nis. Lily menceritakan semuanya dengan jelas tentang apa yang terjadi dan hubugannya dengan Aan.

“Aku tak mengira semuanya akan terjadi seperti ini” Anis merangkul Lily begitu selesai menceritakan semuanya. Tetes air mata Lily keluar dengan perlahan dan beban ini serasa ringan setelah menceritakan semuanya. “aku bingung sekali dan tak kan kubiarkan masalah ini berlarut-larut lagi, tiap kali ingin ku katakan pada Aan, susah sekali megatakannya, dia sangat baik kok, aku takut mengecewakannya”
“Ya.. aku mengerti, bagimu juga dalam keadaan yang serba sulit, dari pada berlarut-larut akan menyakitkan salah satu pihak, pastilah Aan mengerti alasanmu dan bisa berpikir secara dewasa”
“Oh…pastilah dia sangat kecewa sekali”

***

Setelah masuk dalam ruangan, yang berkelambu serba hijau muda, dan berbagai macam peralatan kedokteran, bau khas obat-obatan, di dinding ada motto-motto tentang sehat dan doa waktu sakit, melakukan beberapa pemeriksaan oleh dokter ahli bedah, di salah satu rumah sakit di Solo, dengan pergelangan tangan terpasasang botol inpus, tak boleh terlalu banyak gerak, kuterkapar di pembaringan yang di temani oleh orang tua, saat itulah pertama kalinya, akan menikmati dan merasakan sayatan pisau dokter dan bermalam di rumah sakit, cukuplah hanya saat itu saja, karena operasi baru di lakukan di sore harinya. Entah disuntikkan apa dalam cairan botol inpus itu, tiba-tiba aku tertidur selama seharian, dan terjaga menjelang senja, itupun dibangunkan oleh sang perawat, saat aku harus berpindah dari bangsal kelas dua, dengan mengunakan kursi roda, yang di dorong oleh perawat, Bapakku mengiringi disamping kiriku menuju kearah ruangan operasi.

***

“Eh…ada Aan, kapan tibanya” tegur Anis waktu membuka pintu gerbang kos, saat Anis mau pergi ke rumah sakit menjenguk Lily.

“Liliynya ada Nis, bisa kan aku di panggilkan Lily sebentar, karena ada hal-hal yang akan ku katakan pada Lily, penting banget ini Nis, ku ingin ketemu dengan dia, tolongin aku dong Nis” Dengan tak sabar Aan langsung nerocos berbicara pada Anis, teman satu kos dengan lily.

“Sabar..sabar..pelan-pelan bicaranya, sini masuk dulu, duduk dulu di ruang tamu, aku ambilin minum dulu ya, sebelum kujawab semua pertanyaanmu” Setelah Aan minum segelas air putih, yang di sediakan Anis, dan kelihatanya sedikit keteganganya di raut mukanya mulai sedikit hilang, dan siap menerima penjelasan, barulah Anis menjawab pertanyaan satu persatu.

“Lily sudah menceritakan semuanya apa yang telah terjadi padaku An” sekarang ini Lily sedang mejalani operasi, aku mau kesana menengoknya, kalau belum puas tentang jawaban-jawaban pertayaanmu itu dan alasannya kenapa-kenapa, jangan kau cari jawaban itu pada Lily untuk saat ini, aku rasa sudah cukuplah kau ketahui, untuk saat ini semogga kau bisa menerimanya alasanya”

Setelah mendengar cerita Anis sahabat Lily, Aan pun hanya diam membisu, wajahnya langsung sendu. sambil mengembuskan napas dan dia berkata “Jadi saat ini Lily di rumah sakit ?”

“Iya, aku mau kesana, kamu ikut kesana apa tidak, kalau kamu mau ikut ya sekarang kita pergi bareng, tapi kalau kamu tidak ikut, pulanglah sebelum hari mulai senja”

“Ya udah aku akan ikut menengok ke rumah sakit”

“Tapi awas ya An, jangan ganggu dia ya, sekarang dia lagi sakit” kata Anis agak sedikit megancam pada Aan. “Iya..iya tenang aja, aku masih waras kok”

Lalu keduanya menuju rumah sakit. Setelah tiba di rumah sakit, operasinya sudah selesai dan Lily sudah belum terasadarkan, karena pengaruh obat yang di suntikkan pada botol inpus. Aan sama Anispun belum boleh diijinkan menjenguk, hanya melihat dari ruang-ruang kaca dari luar kamar operasi, karena jam besuk sudah mulai habis dan dengan sedikit memaksa sang perawat untuk memperbolehkan untuk menengok lebih dekat, akhirnya keduanya masuk kamar ruang operasi dimana Lily belum tersadarkan, tapi masih belum seratus persen, masih bisa mendengar apa yang dikatakan sang perawat dan siapa yang datang, tapi matanya masih terpejam.

“Ya..semuanya sudah terasa jelas, aku mengerti keputusanmu, aku merasakan sakit yang kau rasakan, tapi aku tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi sakit seperti ini, meskipun kamu tidak menjawabnya, karena pengaruh obat dalam infusmu, pastilah kamu akan mengiyakan jawaban itu, aku akan masih tetap sebagai sahabatmu, sahabat berbagi suka dan duka, aku tak menyalahkan dirimu, rasa sayangmu ini hanya sebagai sahabat, aku bisa memahaminya setelah kau tak berdaya seperti ini, ternyata beban di pundakmu terlalu berat, tak seperti yang ku banyaangkan dan ku pikirkan selama ini tentang mu. Cepat sembuh sahabat.., kau tetaplah sebagai sahabat yang terbaik bagiku..

Dengan langkah lesu, lalu Aan meninggalkan kamar operasi itu, saat itulah kesadaran Lily sudah pulih. Dia tersenyum melihat di samping kiri Bapaknya dan samping kanan sahabatnya yang menungguinya. Ah… semogga masih bisa menjadi sahabat terbaikmu teman..

Jkt,160809

About these ads

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: