Novel : Diorama Mimpi Yusuf 1

Nama Pena : Solli Dwi Murtyas

SKETSA
1
MIMPI TENTANG AYAH

Bayangan itu seolah tak asing lagi, sosok yang sangat dirindukan sampai saat ini, kerut-kerut di wajahnya pun semakin sulit untuk disamarkan namun seolah menjadi guratan wajah yang menyimpan sejuta rasa yang telah tertanam dan terkunci rapi dalam hati. Sebuah senyuman yang khas dan terkesan sayup dilontarkannya namun selalu terpatri seolah waktu pun tak akan mampu menghapus diri dan perawakannya yang mencerminkan kewibawaan dan ketegaran. Lambaian tangan itu seakan memanggil namun sosoknya tak kunjung dapat didekati.
Sesaat kemudian aku terbangun dari buaian mimpi itu. Ini adalah kali kedua kuimpikan sosok yang sangat kucintai dan rindukan sejak tiga tahun yang lalu, seorang pahlawan bagi keluarga, seorang pelindung bagiku disaat badai kehidupan singgah di dalam kehidupan kami. Seorang ayah yang sekarang tak mungkin aku menemuinya saat ini dan selamanya karena sosok pahlawan itu telah lama pergi jauh, pergi bukan karena keinginannya namun pergi menemui panggilan sang Khaliq.
Ketika itu umurku masih berusia lima tahun. Banyak orang mengenalku dengan panggilan akrab Yusuf. Itulah nama yang orang tua berikan ketika aku lahir dari sebuah rahim ibu penuh kasih. Kejadian yang memaksa ayah berfikir keras untuk memberikan sebuah nama yang terbaik untuk anak semata wayangnya itu. Karena kelahiranku pun sungguh sangat di luar dugaan, aku terlahir prematur dan karena suatu kelainan pada proses pertumbuhanku ketika masih di dalam kandungan ibu, aku terpaksa harus diangkat bersama jaringan rahim milik ibu.
Sehingga dengan terlahirnya ke dunia ini, aku harus rela menjadi sebuah indikasi bagi ayah dan ibu untuk tidak pernah berharap mempunyai keturunan lagi. Lantaran organ penting untuk menyimpan janin pada tubuh ibu telah dikorbankannya demi melahirkanku.
Namaku Yusuf Abdillah, itulah sebuah tumpahan harapan ayah yang tersirat di dalamnya. Ayah sangat cermat memilah nama yang tepat untuk tumpuan harapannya kelak, sebagai penerus estafet garis keturunannya, pemegang tanggungjawab atas setiap tetesan darahnya yang mengalir di tubuhku.
Izinkan aku sedikit menjelaskan secara filosofis tentang nama yang kini melekat, cerita ini sangat terpatri dan terkunci mati dalam pikiranku karena ayah sering kali menceritakannya. Setiap kali ia menceritakannya, setiap kata yang ia ucapkan seakan menjadi sebuah lantunan senandung harapan yang membuncah di dalam dadanya yang membuat tersadar akan amanah besar yang kupikul untuk berusaha menjadi seorang yang ia harapkan.
Pertama ayah mengawali ceritanya tentang nabi Yusuf as., ia adalah seorang nabi yang penuh dengan kewibawaan serta mempunyai karisma yang luar biasa begitu kata ayah, ia menyampaikannya dengan mata berbinar menatap penuh asa ke arahku. Bahkan, ketika baginda nabi Muhammad Saw melaksanakan Isra dan Mi’raj, beliau sempat bertemu dengan nabi Yusuf as. Kemudian beliau memuji ketampanan nabi Yusuf dan sangat menghormatinya. Walaupun wajah dan karisma nabi Muhammad Saw tidak kalah mulianya dengan nabi Yusuf as. Tapi beliau sangat hormat dan terpukau ketika bertemu dengannya.
Tidak hanya sampai disitu filosofis asal muasal nama depanku itu, ayahku bercerita bahwa ia pernah bermimpi mengenai perjalanannya ke tanah suci Makkah, walau pun ia belum pernah ke sana. Namun ia sangat senang dianugerahi mimpi bisa merasakan aroma tanah tempat para nabi berjuang itu untuk membela dan menegakkan kemuliaan Islam. Sekali lagi walau hanya dalam mimpi.
Di dalam mimpinya tersebut, ia memohon untuk diberikan keturanan yang shaleh ketika ia berdoa di Masjidil Haram. Suatu waktu dalam mimpi tersebut ia bertemu dengan seorang Imam mesjid, dengan sangat ramah dan bersahabat imam tersebut memberikan sebuah nasihat untuknya. Jika ia berkeluarga, berikanlah nama yang mulia untuk anakmu seperti mulianya seorang nabi Yakub as. memberikan nama kepada anak-anaknya yang sholeh.
Atas beberapa pemikiran tersebut ayah akhirnya memutuskan untuk memilih nama Yusuf Abdillah untukku, menurutnya itu adalah sebuah tumpahan harapannya kepadaku untuk menjadi pribadi yang mulia seperti nabi Yusuf as yang tak pernah jemu untuk menghamba kepada Allah.
* * *
Masih terlalu dini ketika itu, untuk mengerti tentang sesuatu yang baru saja terjadi dan musibah yang menimpa keluargaku. Seorang tetangga memaparkan bahwa ayah baru saja dikeroyok oleh kawanan perampok yang mencoba membobol sebuah bank syariah dimana ayah bekerja menjadi seorang satpam di sana. Naasnya, tanpa segan-segan beberapa orang perampok tersebut menghabisi nyawa ayah yang memang kebetulan pada saat itu sedang berjaga malam.
Aku dan ibu seakan terhujam sebuah mistar panah yang tepat menembus jantung ketika mendengar berita tersebut, tanpa berpikir panjang kami bergegas langsung menuju ke tempat kejadian. Setelah sampai di depan halaman bank, kami dapati sesosok tubuh yang sangat kami cintai itu sudah tak berdaya bermandikan darah terkapar tepat di sebelah kanan depan pintu entrance bank. Lantai yang hitam mengkilat pun menjadi kusam bercampur darah yang menggenangi permukaan di atasnya.
Seketika Ibu langsung lemah tak berdaya dan tak mampu menahan air matanya yang meleleh membasahi pipinya seraya bibirnya lirih senantiasa beristigfar. Kakinya seakan tak kuat menahan, sehingga ia terjatuh sambil mencoba mempercayai apa yang baru saja terjadi, sebuah kenyataan bahwa suaminya telah meninggal dunia meninggalkan ia dan anak semata wayangnya, aku.
Aku hanya diam terpaku melihat sosok tubuh ayah, mencoba mengerti dan seakan dipaksa harus mengerti tentang keadaan yang menjelaskan bahwa ayah kini tak akan lagi bersama mendampingi. Menelusuri medan kehidupan. Tempat bersandar ketika aku lemah menjalani kerasnya hidup kami yang serba terbatas.
Aku terbawa suasana dan air mata ini pun meleleh membasahi pipi, kemudian segera aku memeluk badan ibu yang lemah untuk mencoba meringankan beban dan tangisan yang menghinggapi kami berdua. Betapa teganya kawanan perampok itu, meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi kami.
Ketegaran yang diajarkan ayah membuatku perlahan dapat menerima keaadaan. Bagiku, ayah tidak hanya seorang satpam atau sekedar kepala keluarga yang tulus memberikan nafkah untuk kami. Namun sosok pria ini menjadi sebuah tiang penyangga disaat kerapuhan menghampiri semangat hidupku. Ayah selalu berpesan kepadaku bahwa sesungguhnya di balik ketegaran ada sebuah kesabaran, sedangkan kesabaran adalah suatu hal yang sangat dicintai oleh Allah. Allah sangat menyanjung hamba-hamba Nya yang sabar, sehingga pantaslah Allah berfirman dalam Al Quran yang mulia bahwasannya jadikanlah sabar dan shalat menjadi penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (2:153)
***
Aku tak mampu berkata ketika aku terbangun dari tidurku. Tersirat sebuah lamunan tentang kenangan indah bersama ayah dan juga kisah tragis yang menimpa dirinya. Sementara ibu, aku tak tahu apakah ibu sekarang sedang merasakan apa yang kurasakan tentangnya saat ini. Kerinduan yang senantiasa membuncah untuk ayah. Walaupun sekarang ibu masih terbaring tepat disampingku dengan selang infus di tangan kanannya. Terlelap dalam sebuah penderitaan yang tak terperi berjuang melawan rasa sakit yang dialaminya saat ini.
Andaikan ibu mendengar, dan aku yakin ibu mendengar dan merasakan jerit pilu hati ini yang berharap akan sebuah kesembuhan untuknya. Harapan ini tak akan pernah aku padamkan walau pun aku tahu, aku sangat yakin harapan itu masih ada walau saat ini harapan kian berada di tepi sebuah jurang keputusasaan.
Hanya lantunan doa yang dapat aku semaikan setiap saat untuk ibu. Dalam salatku, dalam setiap waktu luangku. Percikan asa untuk menumbuhkan benih harapan selalu kusandarkan kepada Allah yang kuyakini tak pernah sekalipun mendholimi setiap hamba-Nya. Yang selalu setia mendengarkan rintihan hati ini, dan tak jemu memberikan kekuatan kepadaku sehingga aku setegar ini sampai saat ini.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: