Novel : Vietnam Rose Ketinggalan Perahu 1

Nama Pena : Utara S

BAB 1

CAMP SINAM DAN JEMBATAN BARELANG

Pulau Galang, 3 Desember 2008, Pukul 11.40 WIB

Siang yang cerah. Setelah menempuh jalan sepanjang 60 km dari Batam aku sampai juga di pulau Galang, sebuah plau yang nyaris tidak ada penduduknya. Tidak mengalami perubahan berarti ketika 2 tahun lalu aku datangi masih sepertiya yang dulu, sunyi dan sepi.

Aku kemari karena ingin mengunjungi sebuah tempat bersejarah. Di Pulau Galang ini ada satu tempat yang sering di kunjungi banyak orang. Camp Sinam namanya. Sebuah tempat yang dulunya bekas tempat penampungan pengungsian manusia perahu dari Vietnam. Tempat ini sudah tidak ada penghuninya sejak 11 tahun di tinggalkan para pengungsi karena kembali ke negara asal atau pindah ke negara yang mau menerima mereka.

Aku pergi berkeliling Camp SiNam ini. Beberapa bangunan seperti rumah sakit, rumah-rumah penampungan pengungsi, rumah-rumah pekerja PBB, vihara, gereja, depo bahan bakar, jalan-jalan penghubung dan pelabuhan kecil Vihara, termasuk perahu bekas para pengungsi masih ada di tempat ini.

Ternyata hari ini yang datang ke Camp Sinam ini bukan aku saja. Sekelompok anak SLTP ternyata sudah sampai terlebih dahulu di tempat ini termasuk beberapa pengunjung biasa. Ha..ha..ha.. aku benar-benar merasa terhibur melihat tingkah laku anak-anak SLTP itu yang bermain-main dengan riangnya ditempat ini. Kebetulan mereka bawa kamera dan merekam tingkah laku mereka. Ada yang main kawin-kawinan di bekas gereja, ada yang berantem-beranteman di taman. Tentu saja aku yang lagi mendalami dunia fotografi tidak melewatkan begitu saja tingkah laku anak-anak ini. Aku mengabadikan mereka dalam cameraku secara sembunyi-sembunyi.

Melihat tingkah laku anak-anak SLTP ini yang lucu-lucu aku pun mengikuti dan memfoto mereka secara diam-diam. Saat aku mengikuti mereka ke area perkuburan aku lihat ada beberapa pengunjung yang sedang berziarah kubur. Perhatianku tertuju pada seorang wanita yang sedang menaburi bunga di salah satu kuburan. Aku pun memotretnya. Saat aku asyik memotretnya, gadis itu melihat ke arahku. Ia tersenyum padaku dan aku membalasnya.

Cantik juga gadis itu. Aku memotretnya kembali dan dia pun tersenyum lagi. Akhirnya ia pun pergi tanpa berkata sepatah kata pun. Aku yakin gadis itu pasti salah satu anak bekas pengungsi disini. Dari wajahnya kelihatan kok yang oriental dan berkulit putih.

Gadis itu membuat aku teringat kembali akan sejarah memilukan kisah para pengungsi Vietnam dan sejarah Camp SiNam ini. Semua ini bermula dari perang saudara antara Vietnam Selatan dengan saudaranya sendiri di Vietnam Utara. Perang saudara ini mengakibatkan kekacauan yang luar biasa. Ribuan penduduk Vietnam Selatan banyak yang mengungsi dengan perahu seadanya, bahkan ada yang bocor. Satu perahu berisikan 40-100 orang.

Mereka berjuang mengarungi Laut tanpa tentu arah. Berhari-hari mereka terapung-apung di tengah laut sampai akhirnya banyak dari para pengungsi itu yang terdampar di Indonesia seperti di Tanjung Pinang, Natuna, Teluk Keriting, Batu Hitam, Km14 Tanjung Uban, Tanjung Unggat, Sungai Walang, Kijang dan pulau-pulau kecil lain yang tidak berpenghuni disekitar Kepulauan Riau. Di dekat rumahku bekas perahunya masih ada. Tetapi ada juga yang bernasib lebih malang lagi, ada yang ditangkap bajak laut bahkan kapalnya tenggelam di tengah laut.

Akhirnya atas dasar kemanusian Pemerintah Indonesia dan dunia internasional melalui UNHCR lembaga PBB yang membidangi pengungsian mendirikan pusat penampungan dengan berbagai fasilitasnya di Pulang Galang ini. Karena jumlah pengungsi mencapai ratusan ribu orang akhirnya tempat ini jadi sebuah perkampungan yang tertutup.

Tidak terasa 18 tahun lamanya para pengungsi itu ada di Pulau Galang ini. Udah beratus-ratus orang Vietnam yg meninggal di sini, selain karena sakit dan usia tua. Mereka juga telah beregenerasi, dan aku yakin gadis itu salah satunya. Karena UNHCR menyatakan tidak lagi memiliki dana untuk membiayai para pengungsi ini, akhirnya pada tahun 1996 para pengungsi harus dikembalikan ke negara asalnya yang sudah relatif aman tetapi sebagian besar juga di tampung ke negara lain yang mau menampungnya seperti Amerika, Kanada dan Australia.

Ya… kini tempat bersejarah ini menjadi areal memorial yang mengingatkan siapa saja akan tragedi di masa lalu. Sebuah tempat di mana ribuan orang pernah hampir kehilangan harapan hidup dan tidak tahu harus kemana selain ikut terhanyut oleh gelombang laut di atas perahu yang bocor. Tempat ini juga suatu bukti bahwa rasa kemanusiaan sesuatu yang penting dan mendapat tempat terhormat di dunia.

Setelah mengunjungi dan mengabadikan seluruh Camp SiNam ini, aku memutuskan kembali ke Batam. Dalam perjalanan pulang aku selalu berhenti di tiap jembatan yang menghubungkan antar pulau. Jembatan yang menghubungkan antar pulau ini namanya jembatan Barelang. Barelang ini sendiri ya akronim dari nama Batam, Rempang, dan Galang.

Aku merasa agak lucu juga dengan sebutan Barelang ini karena hanya Batam, Rempang dan Galang yang di akronim, padahal jembatan Berelang ini terdiri 6 jembatan yang menghubungkan tujuh pulau sekaligus. Bisa dibilang jembatan Barelang ini satu-satunya di dunia yang menghubungkan tujuh pulau sekaligus. Jembatan Tengku Fisabilillah yang menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton. Jembatan Narasinga menghubungkan Pulau Tonton dengan Pulau Nipah yang berbentuk lurus tanpa lengkungan. Jembatan Ali Haji menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setokok. Jembatan Sultan Zainal Abidin menghubungkan Pulau Setokok dengan Pulau Rempang. Jembatan Tuanku Tambusai menghubungkan Pulau Rempang dengan Pulau Galang. Jembatan Raja Kecil menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru.

Diantara enam jembatan ini yang paling sering dikunjungi orang ya jembatan Tengku Fisabilillah. Selain karena yang paling dekat dengan Batam juga karena karena model dan strukturnya mirip dengan jembatan gantung Golden Gatenya San Fransisco di Amerika sana. Pokoknya keren deh jembatannya, teranyata kita bangsa Indonesia kalau memang bersungguh-sungguh pasti tidak kalah dengan kemajuan bangsa-bangsa lain.

Hari mulai sore. Aku sampai di Jembatan Tengku Fisabilillah saat sudah banyak orang berdatangan untuk bersantai di jembatan ini. Aku pun mulai potrat-potret disana-sini. Ketika lagi asyik-asyik memotret aku melihat seorang wanita yang rasa tadi aku lihat di Camp Sinam. Ia berdiri 30 meter dariku. Wanita itu juga sedang asyik memotret bersama teman wanitanya. Saat ia melihat ke arahku ternyata dugaanku benar, wanita itu memang wanita yang aku lihat dikuburan Camp Sinam.

Ia tersenyum padaku. Meski agak jauh, tapi masih kelihatan kok ia punya senyum yang sangat manis. Aku pun membalasnya. Aku memotretnya dan dia tersipu malu-malu. Saat ia hendak memotoku, ia dipanggil temannya lalu pergi pulang tanpa sempat memotoku. Setelah puas memoto sana-sini aku pun kembali ke Batam. Seperti namaku Batam Indera Perkasa.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: